Reportase Hesty Daisy

Filed Under (Resensi) by indarpuri2cinta on 17-09-2011

Bedah Buku Penulis Kaltim; Perpaduan Sejarah dan Cinta

IMG_9802.JPG

Kemarin (15/9), perpustakaan daerah Kaltim di Samarinda terlihat lebih ramai daripada biasanya. Pasalnya, selain memang biasa ramai oleh para pengunjung, ternyata ada sebuah program Perpusda Kaltim untuk mengadakan bedah buku yang membuat halaman parkir tampak lebih penuh dari hari-hari biasa. Bertempat di ruang utama perpustakaan, hadir dua penulis lokal Kaltim diantaranya adalah Johansyah Balham, seorang sastrawan senior yang pada acara itu mengulas tentang bukunya berjudul Prahara di Martadipura, sebuah epos/roman sejarah kerajaan Hindu tertua di Indonesia yang penuh intrik dan konflik. Buku ini adalah buku revisi dari buku sebelumnya yang berjudul Runtuhnya Martadipura.

Sedangkan penulis satunya adalah Inni Indarpuri, seorang Ibu rumah tangga yang juga tergabung dalam sebuah komunitas menulis Ibu-ibu cabang Samarinda (IIDN Samarinda). Perempuan produktif ini mengulas novelnya berjudul Di Antara Dua Cinta yang berlatar lokal Kecamatan Muara Pahu Kabupaten Kutai Barat. Karena bahasanya lugas dengan mengambil tema chick sehingga banyak mendapat respon positif dari para pembacanya, novelnya kini berjajar di garda buku terlaris Gramedia Samarinda.

Para peserta bedah buku terlihat sangat antusias mengingat ternyata banyak sekali hal-hal yang bisa diambil dari pembahasan ringkas kedua buku itu. Buktinya, tak kurang dari sepuluh penanya yang terdiri dari pengamat sastra, penikmat sastra, dan pelajar menengah terlihat kritis menanggapi ulasan para penulis/pemateri yang kemudian masing-masing mendapat suvenir berupa buku.

Pihak perpustakaan berharap, buku-buku Kaltim itu bisa juga disumbangkan untuk inventaris perpustakaan daerah. Bahkan ada juga yang memberi saran, alangkah bagusnya jika buku itu (terlebih untuk Prahara di Martadipura), sampai ke tangan civitas akademika di seluruh Kaltim terutama Kutai Kertanegara karena di sanalah pernah berdiri kerajaan Martadipura (Mulawarman) ini. Setidaknya, sebagai bukti dan penyokong sejarah Kaltim yang pernah ada.

Para penulis tersebut juga berharap akan ada lagi karya-karya sastra lain yang ditulis oleh warga Kalimantan Timur. “Sekarang sudah banyak media-media yang siap mempublikasikan karya teman-teman, bahkan koran dan majalah Kaltim pun siap menerima karya-karya dari para penulis yang aktif dan produktif,” ujar Djayadi selaku moderator bedah buku itu. (Hes)

320603_2045805153240_1487736659_31766372_1882460859_n2

RESENSI (6)

Filed Under (Resensi) by indarpuri2cinta on 10-06-2011

Resensi

Judul : di antara dua cinta: mencumbu jenggala, berkalang jeram

Penulis : Inni Indarpuri

Sebuah Novel yang diceritakan dengan apik oleh bunda Inni Indarpuri . Terinspirasi dari kisah nyata beliau yang pernah tinggal di pedalaman kalimantan. Dari judulnya “di antara dua cinta” sudah dapat ditebak bahwa novel ini bertemakan cinta dan bukan cinta biasa alias cinta segitiga. Mengangkat kisah Horizon, lulusan terbaik perguruan tinggi negeri di samarinda yang mengabdikan dirinya menjadi seorang guru di tengah suku pedalaman kalimantan. Meninggalkan sang kekasih, Zahra, demi sebuah kata pengabdian dan berpetualang ke pedalaman kalimantan.

Disinilah seorang Horizon ditantang mentalnya untuk meninggalkan fasilitas yang ada di kota dan mengabdikan dirinya sebagai seorang guru yang mencerdaskan anak bangsa bukan hanya di kota tapi mereka yang di pedalaman pun berhak menikmatinya ditengah keterbatasan yang ada. Tak hanya itu, bidadari hutan Leang pun mampu memikat hatinya. Berada di antara cinta, antara Zahra dan Leang. Berurusan dengan hukum adat yang kadang terabaikan begitu saja.

Berbeda dengan novel cinta lainnya, bunda Inni juga mengangkat kearifan lokal pedalaman kalimantan timur. Jadi kita tidak hanya disuguhkan cerita cinta yang menarik tetapi juga diajak berpetualang ke pedalaman kalimantan yang mungkin tidak semua orang pernah mengalaminya. Saya pun yang notabene warga samarinda belum pernah menyusuri pedalaman kalimantan sehingga menambah wawasan kita dan membuat saya berdecak kagum betapa kayanya negeri ini dengan potensi-potensi wisata yang ada.

Membaca novel ini membuat mata ini tak mau beranjak dari lembar demi lembar halamannya hingga selesai. Mengingatkan kembali akan memori indahnya sungai mahakam, mengingatkan akan kerinduan untuk kembali pulang ke tanah borneo dan mengabdikan diri disana. Patut dibaca, karena banyak pelajaran didalamnya.

Pesan moral dari novel ini adalah satu kata : “Belajar” dimanapun kita berada kita harus selalu memperhatikan hukum adat yang berlaku dan “bekerja dengan hati”.sehingga tercipta pengabdian yang tulus. Dan satu lagi : belajar bagaimana susahnya menjaga hati. Yuph, silahkan menyelami pedalaman kalimantan beserta romansanya dengan membacanya sendiri. Selamat membaca.

By: Ron Azzahra

*mahasiswa psikologi Universitas Muhammadiyah Malang asal Samarinda

RESENSI (5)

Filed Under (Resensi) by indarpuri2cinta on 06-06-2011

graphic11

Novel: Diantara Dua Cinta

oleh Cempaka Bunga pada 05 Juni 2011 jam 20:02

Judul: Di Antara Dua Cinta Mencumbu Jenggala,Berkalang Jeram

Penulis: Inni Indarpuri

Penerbit: Qiyas

Harga: Rp.45.000,-

Jumlah Halaman: 218 hlm

Cerita diawali dengan pergulatan batin seorang guru bernama izon (horizon) yang di tugaskan ke pulau rikong di pedalaman pulau Kalimantan  Timur. Secara mental tentu izon siap, tapi hatinya yang tidak siap karna harus berjauhan dengan kekasih hatinya , seorang wanita berkerudung bernama Zahra. Namun pada akhirnya, izon pun memutuskan pergi kekampung rikong untuk mengemban tugasnya sebagai seorang guru. Setibanya di kampung rikong, betapa tercengangnya izon ketika pertama kali melihat keadaan sekolah yang akan diajarnya, benar-benar sangat memprihatinkan. Namun hal itu, semakin menguatkan tekadnya untuk tetap mengemban tugas mulianya sebagai seorang guru. Di Kampung rikong  mayoritas penduduknya adalah Suku Dayak yang sangat menjunjung tinggi adat istiadatnya. Disanalah Izon bertemu dengan bidadari hutan bernama leang yang notabennya adalah anak kepala suku. Interaksi yang sering terjadi diantara keduanya membuat leang jatuh cinta pada izon. Begitupun sebaliknya, namun izon tetap berusaha menguatkan hatinya agar tetap tertambat pada kekasihnya Zahra. Selang beberapa waktu, izon berhasil memberikan kontribusi untuk kemajuan kampung rikong. Lambat laun,  benih cinta Leang terhadap Izon semakin besar, hingga tanpa ia sadari hal itu malah menimbulkan petaka. Karna dilain pihak, iyas yang telah ditunangkan dengan leang sedari kecil merasa tidak terima dengan keputusan sepihak leang yang mengakhiri hubungannya. Ini menyebabkan izon harus berhadapan dengan hukum adat di kampong rikong, karna telah melanggar hukum adat yang dijunjung tinggi Suku Dayak. Karena kesalahan itu, Izon di hukum  untuk melakukan perjalanan “haul keluarga” yang dapat mengancam jiwanya.

———ii——–

Yang  terucap ketika pertama kali saya melihat novel ini adalah “ kog.. biasa.” Karna di lihat  dari covernya yang  “biasa” ditambah lagi dengan judul Utama yang datar dan kurang greget, namun cukup membuat saya sedikit interest dengan petikan kalimat dibawah judul utama yang menampilkan petikan yang sedikit nakal dan lucu. “mencumbu jenggala, berkalam senja”. Yah ,ini merupakan nilai plus untuk menutupi kekurangan cover novel secara keseruhan.

Menurut saya, sebuah novel yang bagus ialah harus bisa mengajak pembaca dapat berimajinasi hingga ikut hanyut dan ikut serta dalam imajinasi penulis. namun tentu saja ini bersifat relatif. tergantung pada masing-masing pembaca. Dan dalam novel ini saya menemukannya. Novel yang mengusung title “diantara dua cinta”, memuat cerita yang tidak hanya bercerita tentang cinta, namun juga tentang social budaya yang tersaji dengan sangat baik.

Bagi saya pribadi novel  ini sangat patut untuk dibaca, terlepas dari cover dan judulnya yang  terkesan biasa. Namun, karena pesan moral yang disampaikan sangat mengena, tentang bagaimana seorang guru yang ingin memajukan pendidikan bagi anak suku pedalaman. Digambarkan juga potret masyarakat salah satu pulau di Indonesia, yang membuat saya berpikir bahwa Indonesia memang sangat indah, sangat kaya dengan beragam budaya dan bahasa dan membuat saya berpikir andai saja jika ada orang seperti Bunda Inni di setiap pulau atau daerah di negeri ini. ^^ hehhehehhe

^^ Can’t wait till your next book come out Mom!^^

Resensi (4)

Filed Under (Resensi) by indarpuri2cinta on 31-05-2011

Category:

Books

Genre:

Romance

Author:

Inni Indarpuri

Lokalitas Dalam Novel

Judul Buku : Di Antara Dua Cinta
Pengarang : Inni Indarpuri
Penerbit : Qivas Media
Harga : Rp. 45.000

Jujur, saya kurang begitu suka dengan novel yang berlatar belakang budaya atau dalam istilah sastranya sebagian orang menyebutnya sebagai cultural literary non fiction yaitu sebuah karya non fiksi yang digarap secara sastra berdasarkan pendekatan budaya. Hal ini membuat saya sebelumnya tidak pernah membaca novel sejenis termasuk novel tetralogi Laskar Pelangi karya Andrea Hirata. Namun novel Di Antara Dua Cinta karya Inni Indarpuri –biasa saya memanggilnya Umi- ini dengan latar belakang suku pedalaman Kalimantan, mengusik rasa penasaran saya terhadap isi novel tersebut. Saya pribadi tidak bannyak tahu tentang orang-orang suku pedalaman Kalimantan dan jarang sekali ada buku yang menyajikan tentang suku pedalaman Kalimantan secara lengkap. Saya rasa Di Antara Dua Cinta adalah novel pertama di Indonesia yang berlatar belakang suku pedalaman Kalimantan.

Cerita dibuka dengan perjalanan panjang Horizon atau Izon dari kota Samarinda ke Kampung Rikong, salah satu kampung pedalaman Kalimantan Timur yang terletak di hulu Sungai Mahakam. Saking terpencilnya kampung tersebut sampai-sampai tidak tercantum namanya di dalam peta. Tujuan Izon ke Kampung Rikong adalah selain sebagai guru PNS dia ditugaskan mengajar di Kampung Rikong, juga dia ingin menguji metode pengajaran Quantum Learning, yang selama ini dia peragakan dalam berbagai seminar pendidikan, di daerah pedalaman Kalimantan.

Pada bagian awal ini saya cukup menikmatinya dengan suguhan deskripsi lengkap tentang pemandangan sepanjang hulu Sungai Mahakam. Hampir seluruh tulisan tertata dengan lugas dan mengalir hingga bisa membuat saya masuk ke alam isi buku tersebut. Mungkin kalau penulisnya tidak menceritakan salah satu satwa langka yang saat ini masih ada di hulu Sungai Mahakam, saya tidak akan pernah tahu ada satwa bernama Pesut Mahakam. Sejenis ikan lumba-lumba yang hanya mendiami tiga sungai di seluruh dunia. Bahkan saya baru tahu kalau Pesut Mahakam adalah maskot dari Sungai Mahakam tersebut. Deskripsi pemandangan ini menjadi menarik ketika diselingi dengan kerisauan hati Izon yang akan berpisah dengan kekasihnya, Zahra dalam waktu yang cukup lama. Terpaksa mereka harus pacaran jarak jauh atau dalam istilah sekarang Long Distance Realitionship Saya rasa hal ini wajar terjadi. Pemandangan sebagus apapun yang ada di hadapan kita

Untuk keseluruhan isinya, termasuk detail tentang suku pedalaman Kalimantan Timur ini, saya acungkan jempol untuk Umi. Terlihat sekali kalau Umi ini meriset dengan serius sebelum menulisnya bahkan sempat mendatangi pedalaman Kalimantan Timur tersebut secara langsung . Salut! Karena kebanyakan penulis akan merasa cukup dengan hasil riset online dan buku tanpa mendatangi tempat setting cerita secara langsung. Padahal itu membuat cerita tidak sepenuhnya mempunyai nyawa.

Saya setuju dengan istilah bahwa tidak ada yang menarik dari kisah cinta long distance realitionship selain kegagalan. Seperti hubungan Izon dan Zahra yang menggantung karena kehadiran Leang, sang bidadari hutan. Anak kepala suku Kampung Rikong ini ternyata jatuh cinta dengan Izon sejak pertama melihat Izon. Padahal Leang sudah memiliki tunangan bernama Ayus. Konon mereka sudah dijodohkan sejak kecil. Saya rasa manusiawi jika dalam long distance realitionship terjadi kegagalan kesetiaan karena pada dasarnya dimana pun manusia berada, umumnya mereka membutuhkan pasangan yang cocok ada di dekat mereka. Dan perjodohan dimana pun berada, seprimitif apapun mereka hidup tetap tidak berarti apa-apa jika tidak ada kecocokan di antara keduanya sehingga akan menjadi bom waktu di kemudian hari dan bisa jadi akan merugikan orang lain yang tidak tahu apa-apa.

Saya suka sekali dengan pernyataan yang ada pada halaman 154 yaitu adat adalah alat untuk mengatur ketertiban umat manusia yang secara naluri cenderung berperilaku bebas dan sering melakukan perbuatan yang sekehendak hati. Dengan adanya adat naka ruang gerak naluri yang tidak beraturan itu dapat dikendalikan, sehingga terciptalah tatanan kampung yang baik dan selalu terhindar dari perilaku buruk dan kejahatan manusia. Menurut saya itulah kesimpulan hikmah keseluruhan dari isi novel Di Antara Dua Cinta ini. Adanya hukum adat, saya rasa tidak terlalu buruk jika itu untuk kebaikan bersama. Hanya saja tidak semua hukum adat sesuai dengan perkembangan jaman yang ada.

Terlalu banyak penggambaran adat istiadat dan perilaku suku pedalaman Kalimantan Timur secara detail membuat buku ini lebih tepat disebut sebagai buku antropologi bercerita dibanding buku novel biasa. Kisah cinta segi empat antara Izon, Zahra, Leang, dan Ayus hanya tempelan belaka. Sebagai pemanis atau penghias agar buku ini bisa disebut sebagai novel. Namun saya tetap penasaran terhadap lanjutan ceritanya dan akan setiap menunggu lanjutan dari Novel Di Antara Dua Cinta.

Jujur saya tidak tertarik dengan judul novel yang sudah umum dan covernya yang tidak menarik. Covernya mengingatkan saya pada poster film Ayat-ayat Cinta. Padahal judul dan cover sebuah buku adalah dua hal penting untuk menarik minat pasar. Saya malah lebih tertarik dengan tulisan prolog yang ada di bagian belakang buku ini.

Novel ini sangat berpotensi untuk di filmkan. Masyarakat Indonesia wajib mengetahui semua hal tentang suku pedalaman agar mereka semakin menyadari betapa kayanya budaya Indonesia.


http://images.multiply.com/common/dot_clear.gif

Tags: kavellania, resensi, di antara dua cinta, novel

RESENSI (3) di blog Anjari Umarjianto

Filed Under (Resensi) by indarpuri2cinta on 31-05-2011

Anjari Umarjianto

sekedar berkata sekadarnya bicara

Di Antara Dua Cinta: Mencumbu Jenggala, Berkalang Jeram

Posted on | May 28, 2011 | No Comments

Horizon, seorang guru muda sekaligus motivator terkenal di Kota Samarinda. Izon, demikian biasa disapa, adalah mahasiswa yang lulus tercepat berpredikat cumlaude dengan IPK 3,8. Didorong oleh idealisme, Izon menerima penempatan dirinya sebagai guru pada Sekolah Dasar di Kampung Rikong pedalaman Kalimantan Timur.

Demi menunaikan tugas, Izon harus rela berpisah sekian waktu dengan kekasih yang sangat dicintainya, Zahra. Kampung Rikong berpenduduk sekitar 300 orang terletak di Kabupaten Kutai Barat. Kampung Rikong tidak tertera dalam peta, tidak saja tertinggal tapi juga terisolir. Menuju kesana  harus ditempuh dengan menyusuri Sungat Mahakam yang membelah hutan belantara Kalimantan menggunakan kapal sungai. Kemudian dilanjutkan menyusuri anak sungati yang sempit dengan ces, sebuah perahu mesin yang kecil ramping.

http://anjari.net/data/wp-content/uploads/2011/05/diantara-dua-cinta.jpg

Diantara Dua Cinta, Inni Indarpuri

Di Kampung Rikong inilah, Izon sebagai guru satu-satunya bersama seorang kepala sekolah. Sebagaian besar penduduknya Suku Dayak yang sangat menjunjung tinggi adat istiadatnya. Hukum adat Dayak mengatur semua sisi kehidupan masyarakat Kampung Rikong. Izon berkenalan dengan gadis cantik anak kepala suku bernama Leang. Interaksi keduanya menimbulkan benih cinta di hati Leang. Meskipun getar cinta itu dirasakan Izon, namun ia berusaha tetap menambatkan hatinya pada Zahra.

Sebagai guru, Izon tergolong berhasil membawa perubahan kemajuan di Kampung Rikong. Namun ternyata benih cinta Leang terhadap Izon harus berhadapan dengan hukum adat setempat. Tanpa disadari dan ketahui,  Izon telah dianggap melanggar hukum adat yang dijunjung tinggi Suku Dayak. Karena kesalahan itu, Izon harus memilih satu diantara dua wanita, Zahra atau Leang. Izon juga harus menerima hukuman untuk melakukan perjalanan menunaikan “haul keluarga” yang mengancam jiwanya.

Itulah ringkas cerita novel Diantara Dua Cinta, Mencumbu Jenggala Berkalang Jeram karya Inni Indarpuri. Sebuah novel yang terinspirasi dari kisah nyata tentang cinta, pengabdian dan petualangan di tengah masyarakat suku pedalaman. Novel Diantara Dua Cinta setebal 218 halaman ini diterbikan oleh Qiyas Media pada bulan April kemarin.

Mungkin cinta segitiga sudah biasa menjadi cerita latar sebuah novel. Yang menjadikan Diantara Dua Cinta berbeda adalah konflik cinta segitiga ini lebih dominan disebabkan oleh ketidaktahuan tokoh Izon terhadap adat istiadat setempat. Keunikan novel Diantara Dua Cinta juga terletak pada kemampuan penulisnya dalam mengambil cerita latar kehidupan Suku Dayak.

Inni Indarpuri seakan menggiring pembaca novel untuk menyusuri Sungai Mahakam dan kehidupan hutan rimba (jenggala). Ia juga mengajak pembacanya menyelami kehidupan sehari-hari masyarakat Dayak Kampung Rikong yang berpencaharian dengan berladang dengan adat istiadat dan kepercayaan animisme yang sangat kental. Menggambarkan betapa sulitnya menjadi guru muda pada sebuah daerah yang masih mengutamakan berladang daripada sekolah.

Diantara Dua Cinta, sebuah novel yang berusaha menggambarkan persinggungan antara kehidupan modern, idealisme dan adat istiadat. Novel yang mengangkat harmonisasi pentingnya pendidikan dan menjunjung tinggi adat istiadat sebagai sebuah kearifan lokal yang harus dipertahankan. Seperti pepatah, dimana bumi dipijak disitu langit dijunjung.

Diantara Dua Cinta merupakan seri pertama dari novel dwilogi. Hal ini terlihat pada akhir novel, seakan penulis dengan sengaja menyimpan cerita sambungan yang menuntut harus dituntaskan. Cerita latar yang mengangkat cinta segitiga akibat hukum adat belum dieksplorasi lebih jauh sehingga terbangun konflik yang lebih dalam.

Demikianlah, novel Diantara Dua Cinta ini akan memperkaya khasanah pustaka yang berlatar belakang budaya Indonesia. Terima kasih kepada saudari Inni Indarpuri, juga seorang blogger detik, yang berkenan mengirimkan novel karyanya kepada saya. Sebuah novel yang telah menemani perjalanan selama 2 jam penerbangan Jakarta Makassar untuk acara Blogilicious

RESENSI (2)

Filed Under (Resensi) by indarpuri2cinta on 29-05-2011

p71303731d

RESENSI NOVEL DADC :

PENASARAN YANG MEMBUNCAH

(sebuah sensasi setelah membaca DADC)

Judul : DI ANTARA DUA CINTA

Penulis : INNI INDARPURI

Penerbit : QIYAS MEDIA, YOGYAKARTA

Tebal : 218 HALAMAN

Harga : Rp 39.000,-

Peresensi : Dhianisa (Pengelola Rumah Baca Asma Nadia Samarinda)

Saya orang yang tergolong paling enggan membaca novel percintaan. Saya pikir isinya pasti tak jauh berbeda dengan kisah-kisah cinta yang lainnya. Mengumbar hawa nafsu, mesra-mesraan yang tidak ada juntrungannya, adegan marah, kecewa, foya-foya, sampai berpelukan pun digambarkan. Ngebosenin.

Ketika dihadapkan pada sebuah novel berjudul Di Antara Dua Cinta (DADC) oleh penulisnya langsung, penulis wanita Samarinda, Inni Indarpuri. Membaca judulnya saja membuat saya berpikiran sama, bahwa ini adalah novel percintaan yang tidak jauh beda dengan yang sudah-sudah. Namun ada satu kalimat yang menggugah saya untuk mulai melirik buku ini. Mencumbu Jenggala, Berkalang Jeram. Bagi saya yang orang Samarinda asli, ada dua hal yang menggelitik dari sub judul cover tersebut. Jenggala dan Jeram. Jenggala adalah hutan atau rimba dan jeram adalah arus air yang sangat deras, medan yang sulit untuk dilalui. Hutan dan jeram inilah yang mulai menggugah pikiran saya. Banyak hutan dan jeram terdapat di Kalimantan Timur.

Novel ini bercerita tentang sebuah pengalaman yang terinspirasi dari kisah seorang guru yang ditugaskan ke tengah masyarakat suku pedalaman di salah satu dusun terpencil di Kalimantan Timur. Sebuah dusun yang memang belum terlacak eksistensinya di peta manapun. Bisa terbayang kan, betapa dusun tersebut letaknya sangat terpencil dan sulit untuk dijangkau.

Menyusuri halaman demi halaman DADC dengan cermat, membuat mata dan pikiran ini seolah tak ingin melepaskan setiap lembarnya begitu saja. Saya seakan didesak-desak untuk terus membaca hingga akhir kalimat buku tersebut. Bagaimana tidak, Inni Indarpuri, menggambarkan eksotisme rimba Kalimantan dan kehidupan sungainya dengan begitu sempurnanya. Gambaran kehidupan suku Dayaknya pun lengkap dengan tradisi dan adatnya yang tergambar dengan lugas. Membawa saya seakan terjun langsung ke setting dan kehidupan masyarakat suku pedalaman.

Tidak berlebihan kalau saya katakan bahwa buku ini memang layak untuk dibaca oleh siapapun. Selain settingnya yang tergambar dengan kuat, novel ini juga memiliki bobot pengetahuan seperti biologi, kehutanan, ilmu kependidikan, dan kritik sosialnya yang sangat membangun.

Lantas dimana letak percintaannya? Horizon, sang guru baru yang mempunyai idealisme tinggi untuk mengubah pola pikir masyarakat suku pedalaman terhadap pentingnya pendidikan, dihadapkan pada jerat cinta dan pesona Leang, anak kepala suku Dayak. Satu hal yang menggugah Izon, panggilan akrab Horizon, untuk meladeni kedekatan Leang adalah kesungguhan Leang belajar mengaji, karena secara diam-diam dia sudah seringkali mendengar Izon mengaji dengan merdunya. Namun, cinta Leang berarti cermin maut untuk Izon, ia divonis harus menikahi Leang oleh hukum adat Dayak setempat. Sementara di sisi lain, masih ada Zahra, kekasih Izon yang tertinggal di Samarinda. Dalam novel ini belum jelas siapa yang dipilih Izon menjadi pendamping hidupnya, namun Izon sudah terlanjur menyatakan sanggup memenuhi syarat hukum adat setempat untuk mencumbu jenggala, mengaruhi jeram, sekedar mendapatkan seorang Leang.

Novel DADC diramu apik oleh penulisnya yang notabene terjun langsung ke lokasi-lokasi yang tertera di sana, sehingga penulisan settingnya begitu kental dan kuat. Namun satu yang menjadi garis bawah saya sampai saat ini, bahwa ada ketidak konsistenan sikap dari seorang Izon terhadap pandangannya mengenai pergaulan dalam Islam.

Dihadapan para tetua adat dan masyarakat Dayak pada sidang adat yang memvonis Izon untuk menikahi Leang, Izon memiliki hak jawab dengan mengatakan bahwa:

“Islam telah mengatur bagaimana rasa tertarik dan rasa cinta di antara dua jenis manusia itu dapat disalurkan. Bukan dengan pacaran dan pergaulan bebas, tetapi dengan ikatan yang kuat yaitu pernikahan.” (Hal 167, paraghraf 1)

Bukan dengan pacaran. Pertanyaan ini sebenarnya tidaklah salah. Namun, sikap Izon sendiri yang membuatnya tidak konsisten menurut saya.

Dihadapan orang lain ia berkata tahu batasan pergaulan dan tidak pacaran, sementara waktu di Samarinda sendiri, sebelum dia datang ke Rikong, Izon memiliki seorang kekasih bernama Zahra (Hal 13, paraghraf 1). Sebuah cubitan halus didaratkan Zahra ke lengannya memaksanya meneruskan kalimatnya (Hal 17, paraghraf 1). Betapa Horizon ingin memilih utuk tetap mendampingi wanita berjilbab ini, mengantarnya ke kampus, menemaninya kemana pun Zahra mau (Hal 18, paraghraf 3). Itu sebagian kutipannya J.

Dari segi penulisan ada beberapa yang mungkin bisa menjadi catatan, yaitu:

Terlalu banyak …, menurut salah seorang editor yang pernah mengkritik tulisanku, titik-titik itu membuat tak nyaman untuk dibaca, sebaiknya diganti dengan koma. Kalau pun mesti memakai titik-titik, sebaiknya dibatasi tiga buah titik saja.

Misalnya di halaman 5, salam awal dan halaman 6, salam akhir. Diakhir salam tidak perlu memakai titik-titik, cukup 1 titik.

Halaman 5, Paraghraf 3, bagian akhir, “dalam perangkapnya…. terlupa ajaran agama dan adat istiadat….” Mungkin akan lebih nyaman dilihat begini, “dalam perangkapnya, terlupa ajaran agama dan adat istiadat.” Toh, artinya sama saja, iya kan? Itu satu contoh titik-titik.

Yang lainnya adalah penulisan tanda baca.

Misal, halaman 18, paraghraf 1, “Jadi, kamu tetap merestui…?,” Horizon memastikan. Ada pemborosan tanda baca disini, kalau sepengetahuan saya setelah tanda tanya (?), tidak perlu ditambah tanda baca yang lainnya seperti koma (,) atau titik (.).

Halaman 59, “Selamat pagi…!,” ulangnya.

Pemenggalan kata yang kurang tepat, cuma sedikit yang saya temukan, seperti pada halaman 20, paraghraf 2: kala…u, mestinya ka…lau.

Halaman 20, paraghraf 3: g…uru, mestinya gu…ru.

Halaman 29, paraghraf 3: or-ang, mestinya o-rang.

Halaman 51, paraghraf 3, ibu kota, mestinya ibukota kali ya? J

Halaman 67, paraghraf 3, orang-or-ang, mestinya orang-orang saja.

Penggunaan sisipan, seperti conoh pada halaman 10 paraghraf 3: Hem, biasakan familiarnya Hmm J.

Insya Allah ada beberapa yang lain, kritik di atas cuma sebagian contoh saja.

Namun, pada dasarnya, secara keseluruhan novel DADC ini sungguh membuat penasaran pembacanya, apalagi diakhir cerita dikatakan bahwa Izon mengalami insomnia akibat…

O o, silahkan anda rasakan sendiri sensasinya membaca novel kedua Inni Indarpuri ini. Anda pasti tak akan mau berhenti membacanya dan akan minta tambah, tambah dan tambah lagi hehehe… happy reading DADC.*

RESENSI

Filed Under (Resensi) by indarpuri2cinta on 27-05-2011

graphic12

Cinta dan Lokalitas

Judul novel: Di Antara Dua Cinta (Mencumbu Jenggala, Berkalang Jeram)

Penulis: Inni Indarpuri

Penerbit: Qiyas Media

Cetakan I: April 2011

Harga: 45.000

Peresensi: RF.Dhonna (dosen Bahasa Universitas Mulawarman)

Tak banyak karya fiksi yang mengangkat lokalitas budaya Kalimantan Timur. Novel Diantara Dua Cinta (DDC) ini salah satunya. Dua novel  sebelumnya yang bersetting Samarinda, Mukjizat Cinta karya M.Masykur A.R.Said dan Jiwa-jiwa Bercahaya karya Wahyudi Asmaramany (Diva Press), kurang mengeksplorasi latar.

DDC berkisah kisah cinta seorang guru muda bernama Horizon dan kekasihnya, Zahra. Jalinan cinta Horizon dan Zahra terbentang jarak karena Horizon mendapat tugas mengajar ke pedalaman Kalimantan Timur, tepatnya di Kampung Rikong. Kampung ini tidak ada di peta.  Alat transportasi satu-satunya ke kampung tersebut harus melalui sungai Mahakam, listrik belum ada, dan media komunikasi hanya radio (itupun dengan sinyal yang kurang baik). Tak heran jika banyak yang menganggap kampung ini terisolir.

Kisah long distance relatinship ini agak goyah sejak hari pertama Horizon datang di kampung itu. Leang, seorang gadis dayak yang merupakan anak kepala adat Desa Rikong, mencoba masuk ke kehidupan Horizon. Horizon pun ternyata menaruh hati pada gadis berparas cantik itu sejak pertemuan pertama.

Kisah cinta segitiga mungkin memang sudah biasa diangkat menjadi tema dasar sebuah novel. Kisah itu menjadi tak biasa jika dikaitkan dengan adat istiadat penduduk setempat yang dijadikan setting novel. Konflik dan alur novel ini tidak digerakkan oleh kisah cinta diantara tokoh-tokoh utamanya, tetapi justru adat-istiadat-lah yang menggerakkannya.

Mungkin tak banyak orang tahu, bahwa suku Dayak mempunyai aturan yang ketat dalam mengatur hubungan perempuan dan laki-laki yang tidak terikat pernikahan. Seperti yang digambarkan penulis di salah satu bab novel ini, Akan halnya adat mencari jodoh, Kampung Rikong pun punya tata cara pergaulan yang tidak lepas dari buku rukun adat. Sejak dahulu telah diatur bahwa tidak boleh ada seorang perempuan berjalan berdua-duaan dengan lelaki yang bukan suami atau keluarga dekatnya (hal.155). Lalu di bagian lain ada juga penjelasan mengenai hukuman dan denda apa yang harus dibayar jika melakukan pelanggaran (hal.156-168).

Inni Indarpuri sangat detail menggambarkan pedalaman Kalimantan Timur. Pembaca seperti digiring menyusuri suasana pedalaman dan serasa menetap disana.  Pembaca akan mendapat banyak pengetahuan baru tentang adat istiadat masyarakat Dayak. Hebatnya, penulis buku Kenapa Anakku Harus Mengidap Lupus? ini menuliskan deskripsi tersebut dengan sangat cantik, tidak berpanjang lebar seperti ceramah.

Penulis mengaku tidak main-main melakukan riset, bahkan ia sempat datang langsung ke lokasi. Salah satu kelemahan novel yang berdasarkan riset lapangan adalah, penulis cenderung menuliskan hasil risetnya seperti laporan. Tetapi itu tidak terjadi pada novel lulusan Fakultas Kehutanan Universitas Mulawarman ini. Membaca hasil risetnya, pembaca tidak hanya akan memperoleh informasi, tetapi sekaligus memperoleh pengalaman batin. Emosi kita akan ikut terasah ketika menyelami kearifan-kearifan masyarakat pedalaman. Misalnya ketika Horizon bertanya kepada penduduk setempat, kenapa anak-anak Dayak lebih mementingkan membantu orangtua daripada sekolah, pembaca akan tersadar bahwa orang Dayak ternyata punya konsep hidup yang berpikiran sangat jauh ke depan (hal.77-86)

Kisah cinta Zahra-Horizon-Leang ini belum tuntas hingga halaman akhir, karena novel DDC ini merupakan bagian pertama dari dwilogi novel (yang kedua masih dalam proses penulisan).  Meskipun secara fisik (kover dan judul) novel ini kurang menarik, bahkan cenderung biasa saja, tetapi isinya sangat luar biasa. Novel ini bahkan layak difilmkan seperti film Sleeping Dictonary yang mengangkat kehidupan masyarakat Dayak di perbatasan Malaysia-Kalimantan.

EPILOG

Filed Under (EPILOG) by indarpuri2cinta on 13-05-2011

(epilog ini belum tercetak di cetakan pertama, mohon maaf)

EPILOG

Masih ingatkah kisah tentang sebuah loker? Yang kita menangkan pada sayembara menulis tentang manfaat perpustakaan diawal semester satu dulu, yang hadiahnya membuat kita mendapatkan hak penuh untuk memanfaatkan loker itu sepanjang menjadi mahasiswa di kampus, kuncinya ada dua, satu tersimpan denganku, duplikat lain denganmu, apakah kamu masih memegangnya Horizon?, atau sudah lama sekali kamu tiada mengingat dimana menaruhnya terakhir kali, karena sebagaimana genap sembilan bulan ini hanya aku yang rutin membukannya dan mengisi loker dengan cerita yang baru, hanya seorang diri.

Aku memang tak pernah menyangka bahwa cinta kita akhirnya harus takluk pada jarak. Sebuah kata yang dulunya menjadi bahan tertawaan kita ketika SK penempatan itu membuat kamu binggung dan bertanya, dimana letak kampung Rikong, dulu kita begitu yakin kekuatan cinta dapat mengalahkan komunikasi yang terbelenggu pada jarak, namun kini kita lebih memilih untuk menyerah, kalah.

Sudah cukup aku menunggumu, menangisi hari-hari yang berlalu tanpa kabar beritamu, menunggu balasan suratku yang tak pernah berbalas, tanya itu akhirnya berujung, sudah waktunya aku membenahi diri, memikirkan masa depanku tanpa dirimu.

Masih ingatkan cita-cita dulu, yang kita sepakati dan masih tersimpan apik di loker ini, bahwa mengajar ke kampung Rikong itu hanya batu loncatan, agar kamu lebih memahami teori pendidikan yang akan dicetak menjadi sebuah buku, setelah risetmu selesai kita berdua akan melanjutkan kuliah di luar negeri.

Horizon, aku telah mengisi aplikasinya dan alhamdulillah aku diterima, tetapi sayang aku hanya seorang diri, tanpa dirimu lagi, dan jelas kepergianku ke luar negeri kian membentangkan jarak antara kita.

Aku telah sholat istikharah, dan aku yakin keputusanku ini tepat, aku memohon ridhoNya untuk meninggalkanmu, jikapun pada akhirnya kamu menjadi bagian dari masa laluku, aku akan teguh pada cita-cita semula, melanjutkan kuliah ke luar negeri, meski tanpa dirimu, aku yakin kalau kita berjodoh pasti ada jalannya, jikalaupun tidak, aku ikhlaskan siapapun menjadi pendampingmu, tetap semangat Horizon, dimanapun kamu berada, dalam kenangan tentang kita maupun tidak.

Dear loker, kititip surat terakhir ini untuknya, semoga kelak, ia punya waktu untuk membuka kembali dirimu, untuk membaca semua kenangan ini, atau paling tidak untuk membaca surat terakhir ini agar ia mengerti mengapa keputusan ini kuambil, karena aku sudah tak tahu lagi harus menerbangkan suratku kemana.

Zahrasari Lukita Dewi.

Tiga bulan berlalu, sejak surat terakhir yang ditulis, Zahra melanjutkan kuliah S2 nya ke luar negeri, sama seperti surat-surat lain yang ia kirim langsung ke kampung dimana kekasihnya mengajar, surat terakhirpun tak berbalas.

Berbekal kerinduan ia meninggalkan negerinya, kenangan tentang Izon ia bungkus pada sebuah anjat kiriman kekasih yang berukir nama dirinya “Horizon dan Zahra”, itu merupakan kiriman terakhir kekasihnya dari pedalaman hulu mahakam sebagai hadiah ulang tahunnya tanpa disertai satu lembar berita apapun, setelahnya semuanya berakhir dalam diam. Anjat inilah yang tersisa dari kisah kasih sekian lama, yang akan menemani Zahra dalam menjalani hari-harinya diluar negeri, suatu tempat impian yang pernah mereka janjikan untuk menimba ilmu bersama, anjat telah menggantikan posisi loker yang selama ini menyimpan banyak kisah kasih mereka, sekalipun tak hendak mempercayainya, ia benar-benar meneguhkan dirinya bahwa kesendiriannya kini adalah nyata.

UNGKAPAN TERIMA KASIH

Filed Under (UNGKAPAN TERIMAKASIH) by indarpuri2cinta on 13-05-2011


UNGKAPAN TERIMAKASIH

graphic11

Allah Subhanahuwataalla atas kesempatan kuberada di bumi Kalimantan yang eksotik, atas ijinNya berkunjung ke tempat-tempat menakjubkan tiada tara, sungguh tiada kata yang tepat mengungkapkan rasa syukurku padaNya.

Kedua orang tuaku, Amir Birawono dan Siti Nuriyah Salman, doa kalian adalah peneguh cita-citaku, kepada ayah Akhmad Yani yang Allah pertemukan di suatu kampung yang bernama “Rikong”, atas itu cerita ini bermula dan berlanjut dengan hadirnya ketiga buah hati kami yang cantik dan gagah “Darlene, Deena, Darren”  dan tentu kepada kakak dan adik-adikku, Effie, Andian, Riza dan Eva.

Sahabat-sahabatku di komunitas Odapus (Orang Dengan Lupus), sahabat alumni Fahutan Unmul 1988 ( : kuliah kami di tahun 80-an mengajarkan banyak pergumulan di hutan belantara yang jauh berbeda dengan kondisi sekarang), alumni MSi Unmul 2006, sahabat di Biro Perekonomian kantor Gubernur, sahabat Zahrasari Lukita Dewi yang tidak berkeberatan nama indahnya terukir pada tokoh utama novel ini, sahabat Ibrahim atas risetnya yang sangat menunjang novel ini, sahabatku dari negeri Perancis Valerie Erawan atas kiriman kopi arabicanya sebagai teman begadangku, sahabat sekaligus penerbitku pak Jayadi dan editorku yang penuh dedikasi atas support yang kuat pada novel ini, kepada teman-teman yang telah memberikan ungkapan endorsment novel ini, sahabat facebooker, sahabat blogger, sungguh lega rasanya bisa mengabulkan keinginan kalian, menjelmakan kisahku ini menjadi sebuah novel yang nyata dan bisa hadir di tengah-tengah kalian. Kalian semua menempati tempat teratas di hatiku, Love You all……

Inni Indarpuri

SUB COVER & CREDIT TITTLE

Filed Under (SUB COVER & CREDIT TITTLE) by indarpuri2cinta on 20-04-2011

Tagged Under : , , , ,

graphic11

DI ANTARA DUA CINTA Mencumbu Jenggala Berkalang Jeram _______________________________________ Hak Cipta©Inni Indarpuri Cetakan Pertama, April 2011 Penerbit: Qiyas Media Jl. Kadrie Oening Kompleks Bersama Permai Blok A RT 17 No. 18 Samarinda Kalimantan Timur HP 085246942942 E-mail:  dyayadi2006 at yahoo.co.id  qiyas_media at yahoo.com Perwakilan Yogyakarta: Jl. Tengiri VIII/30 Minomartani Ngaglik Sleman HP 0274 9179117