
RESENSI NOVEL DADC :
PENASARAN YANG MEMBUNCAH
(sebuah sensasi setelah membaca DADC)
Judul : DI ANTARA DUA CINTA
Penulis : INNI INDARPURI
Penerbit : QIYAS MEDIA, YOGYAKARTA
Tebal : 218 HALAMAN
Harga : Rp 39.000,-
Peresensi : Dhianisa (Pengelola Rumah Baca Asma Nadia Samarinda)
Saya orang yang tergolong paling enggan membaca novel percintaan. Saya pikir isinya pasti tak jauh berbeda dengan kisah-kisah cinta yang lainnya. Mengumbar hawa nafsu, mesra-mesraan yang tidak ada juntrungannya, adegan marah, kecewa, foya-foya, sampai berpelukan pun digambarkan. Ngebosenin.
Ketika dihadapkan pada sebuah novel berjudul Di Antara Dua Cinta (DADC) oleh penulisnya langsung, penulis wanita Samarinda, Inni Indarpuri. Membaca judulnya saja membuat saya berpikiran sama, bahwa ini adalah novel percintaan yang tidak jauh beda dengan yang sudah-sudah. Namun ada satu kalimat yang menggugah saya untuk mulai melirik buku ini. Mencumbu Jenggala, Berkalang Jeram. Bagi saya yang orang Samarinda asli, ada dua hal yang menggelitik dari sub judul cover tersebut. Jenggala dan Jeram. Jenggala adalah hutan atau rimba dan jeram adalah arus air yang sangat deras, medan yang sulit untuk dilalui. Hutan dan jeram inilah yang mulai menggugah pikiran saya. Banyak hutan dan jeram terdapat di Kalimantan Timur.
Novel ini bercerita tentang sebuah pengalaman yang terinspirasi dari kisah seorang guru yang ditugaskan ke tengah masyarakat suku pedalaman di salah satu dusun terpencil di Kalimantan Timur. Sebuah dusun yang memang belum terlacak eksistensinya di peta manapun. Bisa terbayang kan, betapa dusun tersebut letaknya sangat terpencil dan sulit untuk dijangkau.
Menyusuri halaman demi halaman DADC dengan cermat, membuat mata dan pikiran ini seolah tak ingin melepaskan setiap lembarnya begitu saja. Saya seakan didesak-desak untuk terus membaca hingga akhir kalimat buku tersebut. Bagaimana tidak, Inni Indarpuri, menggambarkan eksotisme rimba Kalimantan dan kehidupan sungainya dengan begitu sempurnanya. Gambaran kehidupan suku Dayaknya pun lengkap dengan tradisi dan adatnya yang tergambar dengan lugas. Membawa saya seakan terjun langsung ke setting dan kehidupan masyarakat suku pedalaman.
Tidak berlebihan kalau saya katakan bahwa buku ini memang layak untuk dibaca oleh siapapun. Selain settingnya yang tergambar dengan kuat, novel ini juga memiliki bobot pengetahuan seperti biologi, kehutanan, ilmu kependidikan, dan kritik sosialnya yang sangat membangun.
Lantas dimana letak percintaannya? Horizon, sang guru baru yang mempunyai idealisme tinggi untuk mengubah pola pikir masyarakat suku pedalaman terhadap pentingnya pendidikan, dihadapkan pada jerat cinta dan pesona Leang, anak kepala suku Dayak. Satu hal yang menggugah Izon, panggilan akrab Horizon, untuk meladeni kedekatan Leang adalah kesungguhan Leang belajar mengaji, karena secara diam-diam dia sudah seringkali mendengar Izon mengaji dengan merdunya. Namun, cinta Leang berarti cermin maut untuk Izon, ia divonis harus menikahi Leang oleh hukum adat Dayak setempat. Sementara di sisi lain, masih ada Zahra, kekasih Izon yang tertinggal di Samarinda. Dalam novel ini belum jelas siapa yang dipilih Izon menjadi pendamping hidupnya, namun Izon sudah terlanjur menyatakan sanggup memenuhi syarat hukum adat setempat untuk mencumbu jenggala, mengaruhi jeram, sekedar mendapatkan seorang Leang.
Novel DADC diramu apik oleh penulisnya yang notabene terjun langsung ke lokasi-lokasi yang tertera di sana, sehingga penulisan settingnya begitu kental dan kuat. Namun satu yang menjadi garis bawah saya sampai saat ini, bahwa ada ketidak konsistenan sikap dari seorang Izon terhadap pandangannya mengenai pergaulan dalam Islam.
Dihadapan para tetua adat dan masyarakat Dayak pada sidang adat yang memvonis Izon untuk menikahi Leang, Izon memiliki hak jawab dengan mengatakan bahwa:
“Islam telah mengatur bagaimana rasa tertarik dan rasa cinta di antara dua jenis manusia itu dapat disalurkan. Bukan dengan pacaran dan pergaulan bebas, tetapi dengan ikatan yang kuat yaitu pernikahan.” (Hal 167, paraghraf 1)
Bukan dengan pacaran. Pertanyaan ini sebenarnya tidaklah salah. Namun, sikap Izon sendiri yang membuatnya tidak konsisten menurut saya.
Dihadapan orang lain ia berkata tahu batasan pergaulan dan tidak pacaran, sementara waktu di Samarinda sendiri, sebelum dia datang ke Rikong, Izon memiliki seorang kekasih bernama Zahra (Hal 13, paraghraf 1). Sebuah cubitan halus didaratkan Zahra ke lengannya memaksanya meneruskan kalimatnya (Hal 17, paraghraf 1). Betapa Horizon ingin memilih utuk tetap mendampingi wanita berjilbab ini, mengantarnya ke kampus, menemaninya kemana pun Zahra mau (Hal 18, paraghraf 3). Itu sebagian kutipannya J.
Dari segi penulisan ada beberapa yang mungkin bisa menjadi catatan, yaitu:
Terlalu banyak …, menurut salah seorang editor yang pernah mengkritik tulisanku, titik-titik itu membuat tak nyaman untuk dibaca, sebaiknya diganti dengan koma. Kalau pun mesti memakai titik-titik, sebaiknya dibatasi tiga buah titik saja.
Misalnya di halaman 5, salam awal dan halaman 6, salam akhir. Diakhir salam tidak perlu memakai titik-titik, cukup 1 titik.
Halaman 5, Paraghraf 3, bagian akhir, “dalam perangkapnya…. terlupa ajaran agama dan adat istiadat….” Mungkin akan lebih nyaman dilihat begini, “dalam perangkapnya, terlupa ajaran agama dan adat istiadat.” Toh, artinya sama saja, iya kan? Itu satu contoh titik-titik.
Yang lainnya adalah penulisan tanda baca.
Misal, halaman 18, paraghraf 1, “Jadi, kamu tetap merestui…?,” Horizon memastikan. Ada pemborosan tanda baca disini, kalau sepengetahuan saya setelah tanda tanya (?), tidak perlu ditambah tanda baca yang lainnya seperti koma (,) atau titik (.).
Halaman 59, “Selamat pagi…!,” ulangnya.
Pemenggalan kata yang kurang tepat, cuma sedikit yang saya temukan, seperti pada halaman 20, paraghraf 2: kala…u, mestinya ka…lau.
Halaman 20, paraghraf 3: g…uru, mestinya gu…ru.
Halaman 29, paraghraf 3: or-ang, mestinya o-rang.
Halaman 51, paraghraf 3, ibu kota, mestinya ibukota kali ya? J
Halaman 67, paraghraf 3, orang-or-ang, mestinya orang-orang saja.
Penggunaan sisipan, seperti conoh pada halaman 10 paraghraf 3: Hem, biasakan familiarnya Hmm J.
Insya Allah ada beberapa yang lain, kritik di atas cuma sebagian contoh saja.
Namun, pada dasarnya, secara keseluruhan novel DADC ini sungguh membuat penasaran pembacanya, apalagi diakhir cerita dikatakan bahwa Izon mengalami insomnia akibat…
O o, silahkan anda rasakan sendiri sensasinya membaca novel kedua Inni Indarpuri ini. Anda pasti tak akan mau berhenti membacanya dan akan minta tambah, tambah dan tambah lagi hehehe… happy reading DADC.*